Tere Liye Berbagi Cerita Sekaligus Treaser Terbaru Setelah Series BUMI
![]() |
| Suasana penandatangan buku oleh Tere Liye |
Usai perilisan buku series BUMI berjudul ILY, penulis novel Tere Liye mengadakan acara bincang
buku di berbagai kota. Salah satunya di kota Surabaya. Acara ynag diadakan pada
Selasa (26/12/2023) itu bertempat di Gramedia Tunjungan Plaza 1. Berbeda dengan
acara bincang buku pada umumnya,kali ini Tere Liye tidak hanya membahas tentang
buku yang baru ia rilis, tetapi juga membahas serta berbagi pengalamannya
tentang dunia kepenulisannya kepada para pengunjung sekaligus fans.
Dalam acara itu, ia berbicara seputar karya serialnya, BUMI terkait akhir dari cerita yang akan
dijelaskan di buku berikutnya yang berjudul ALDEBARAN. Tak hanya itu, Proxima Centaury juga ia sebutkan yang akan menjadi teaser terbarunya yang ternyata
memiliki keterkaitan dengan series BUMI.
Meski begitu, Ia mengaku, series BUMI adalah karya yang paling bawah diantara seluruh
karya-karyanya. Alasan ia masih menulis series BUMI tersebut adalah untuk mendorong anak-anak, khususnya mereka
yang masih menduduki pendidikan SMP dan SMA sebagai jembatan awal agar mereka tertarik
membaca buku. Karena saat ini, kebanyakan anak-anak dari kalangan mereka lebih
tertarik dengan bermain gadget sehingga menurunkan ketertarikan mereka dari
membaca buku.
Ia justru merasa sedih ketika ada kalangan di atas (lebih
tua) mereka yang membaca buku tersebut, “Kenapa saya sedih? Come on, dia tidak
punya bacaan lain apa? Jadi bapak-bapak ibu-ibu kalo kalian minta tanda tangan tolong
bawa buku yang lebih pantas. Cowok juga bawa buku yang lebih gagah Negeri Para Bedebah, jangan Malah Sunset Bersama Rosi.” ucapnya yang
disambut tawa dari pengunjung.
Selain berbicara tentang buku serialnya, Alumni Universias
Indonesia (UI) itu juga berbagi pengalamannya dalam dunia kepenulisan. Ia menceritakan
pengalamannya ketika ia masih duduk di bangku SMA pada masa orde baru. Dimana
masa tersebut sangat menakutkan bagi para penulis manapun. Ia bahkan diminta
oleh redaksinya untuk berhati-hati dalam membuat tulisan.
Ketika memasuki tahun 2002, Ia sudah mulai bebas dalam
menulis apapun termasuk tentnag politik seiring dengan terbukanya dunia
literasi di masa tersebut. Ia juga sangat senang dengan zaman sekarang yang
dimana orang-orang dapat menulis apapun tanpa khawatir sedikitpun.
Ketika ditanya tentang cara mendapatkan inspirasi dalam menulis novel, ia menjelaskan bahwa semua yang ada disekitarnya dapat dijadikan sebagai inspirasi, “Buku itu inspirasinya di sekitar kita, dari mana-mana. Apapun di sekitar kamu dapat menjadi inspirasi sepanjang kamu melatih disiplin kamu untuk menjadi penulis seperti itu.” jelasnya
Tak hanya itu, ia juga menambahkan, buku yang membutuhkan banyak riset adalah buku sufisme, “Seperti Rindu, Tentang Kamu, Janji, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Itu rumit bisa satu pertemuan buat bahas satu buku”. Ucapnya. Buku yang tidak memerlukan riset yang panjang sehingga mudah baginya dalam menulis serial tersebut.
Penulis asal Sumatera Selatan itu juga berpesan kepada para
pembaca untuk terus semangat dalam membaca buku. Mereka juga dapat mengajak
orang sekitar agar ikut tertarik untuk membaca buku tanpa harus membeli buku,” Membaca
itu tidak perlu beli. kalian bisa pinjam. Meminjam itu sangat terhormat. Banyak
orang dengan meminjamkan bukunya punya kenalan baru, koneksi baru. Bahkan, ada
yang mendapatkan jodoh dari meminjamkan buku, jadi yang jomblo-jomblo pinjamkan
bukunya gak apa apa” jelasnya disertai candaan.

Komentar